Manchester United harus rela kehilangan 4 poin berharga dalam dua pertandingan terakhir di pekan penghujung tahun 2017, dimana Armada Jose Mourinho hanya mampu mengamankan satu poin di kandang Leicester City dan satu poin pula di laga bertajuk 'Boxing Day' melawan Burnley FC. Dengan dua hasil minor tersebut, posisi MU kini semakin jauh tertinggal dari sang pemuncak klasmen, Manchester City yang telah unggul selisih 15 poin. Bisa dibilang, gelar juara Liga Inggris telah pupus bagi Setan Merah, menyaksikan sang tetangga berpesta mungkin hanya tinggal soal waktu saja.
Maklum, telah menjadi kepercayaan di Liga Inggris bahwa tim yang menjadi juara di paruh musim kemungkinan besar akan menjadi juara pula di akhir musim. Selain itu, penampilan gemilang Manchester City sepanjang paruh musim ini, dengan catatan 19 kemenangan dan 1 hasil draw, menjadikan mereka sebagai tim yang mampu menjaga selisih poin terjauh dalam paruh musim, 15 poin, dari tim yang ada di posisi runner-up, Manchester United. Maka wajar-wajar saja jika publik sepakbola menganggap persaiangan Liga Inggris musim ini telah berakhir.
Jika kembali gagal merengkuh trofi Liga Inggris musim ini, maka MU akan memperpanjang puasa gelar mereka setelah terakhir kali menjadi kampiun di musim 2012/2013. Padahal, musim ini Setan Merah telah menunjukan kemajuan yang signifikan dari segi permainan dibandingkan dengan musim lalu. Belanja besar-besar pun telah dilakukan oleh Jose Mourinho demi mendatangkan sejumlah pemain bintang, Victor Lindelof, Nemanja Matic, dan Romelu Lukaku. Sayangnya, performa impresif yang ditularkan pemain-pemain bintang tersebut di awal musim tidak dapat dijaga dengan baik, sehingga MU kini lebih sering meraih hasil minor dan menunjukan performa yang kian melempem.
Performa The Red Devils yang semakin menurun ternyata tidak luput dari pengamatan sang legenda hidup, Ryan Giggs. Bahkan, Giggs tidak sungkan melancarkan kritik pedas hingga membanding-bandingkan kualitas pemain MU dengan pemain rival, Manchester City. Dilansir dari bolasport.com (28/12/2017), Giggs mengungkapkan bahwa ada faktor utama yang menyebabkan Setan Merah kalah bersaing dari sang tetangga.
"Manchester City punya pemain yang mau bekerja keras saat mereka tak mendapatkan bola. Apakah para pemain Manchester United memiliki kualitas tersebut? Sangat berat untuk mengatakan ini, tetapi mereka tidak memilikinya saat ini," ujar Giggs dikutip dari tribunnews.com (28/12/2017).
Jika menoleh pada penampilan kedua tim ketika bersua di 'Derby Manchester' beberapa waktu lalu, apa yang dikatakan Giggs boleh jadi benar mengingat begitu dominannya The Citizen di laga kala itu. Pemain-pemain Manchester City di setiap sektornya mampu menunjukan kulitas kerja keras yang baik saat bertahan maupun menyerang. Tidak heran, mereka kini menjadi tim dengan jumlah selisih gol terbaik di Liga Inggris, yakni 16 kebobolan berbanding 49 gol ke gawang lawan.
Tentu sangat berbeda dengan skuad asuhan Jose Mourinho yang dalam laga Derby Manchester justru hanya bermain dengan gaya sepak bola negatif. Pemain-pemain MU lebih banyak menunggu di garis pertahanan sendiri, tidak ada pressing, dan tidak ada pula kreatifitas di lini tengah. Terlepas dari absennya Paul Pogba ketika itu, lini tengah Manchester City benar-benar tampil mendominasi dan sangat unggul dari segi kualitas kerja keras dan kreatifitas.
Penyakit pemain-pemain MU sebagaimana yang dikatakan Giggs bahkan terus berlanjut dalam dua laga terakhir yang mereka lakoni. Ketika bersua Leicester City di King Power Stadium, Manchester United sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengamankan 3 poin, namun lagi-lagi tidak ada kerja keras yang baik untuk memenangkan pertandingan tersebut. Sebagai contoh, pada suatu momen di menit-menit ahir kala menghadapi Leicester City, Marcus Rashford sebenarnya memiliki kesempatan memberikan assist kepada Romelu Lukaku, namun malah memutuskan untuk mendelay bola demi mengulur-ulur waktu.
Dari sini, telah bisa dilihat bahwa mereka tidak memiliki kerja keras yang baik untuk memenangkan pertandingan dengan gol sebanyak mungkin sebagaimana yang ditunjukan Manchester City. Lini bertahan mereka yang jarang melakukan pressing dan hanya menunggu di garis pertahanan pada akhirnya menjadi penyebab terciptanya gol bagi Leicester di menit-menit akhir.
Maka benar saja kata Ryan Giggs, bahwa kerja keras, baik dalam bertahan maupun menyerang adalah problema paling utama bagi Manchester United yang kini penampilannya kian melempem.
Sumber : ucweb.com
Maklum, telah menjadi kepercayaan di Liga Inggris bahwa tim yang menjadi juara di paruh musim kemungkinan besar akan menjadi juara pula di akhir musim. Selain itu, penampilan gemilang Manchester City sepanjang paruh musim ini, dengan catatan 19 kemenangan dan 1 hasil draw, menjadikan mereka sebagai tim yang mampu menjaga selisih poin terjauh dalam paruh musim, 15 poin, dari tim yang ada di posisi runner-up, Manchester United. Maka wajar-wajar saja jika publik sepakbola menganggap persaiangan Liga Inggris musim ini telah berakhir.
Jika kembali gagal merengkuh trofi Liga Inggris musim ini, maka MU akan memperpanjang puasa gelar mereka setelah terakhir kali menjadi kampiun di musim 2012/2013. Padahal, musim ini Setan Merah telah menunjukan kemajuan yang signifikan dari segi permainan dibandingkan dengan musim lalu. Belanja besar-besar pun telah dilakukan oleh Jose Mourinho demi mendatangkan sejumlah pemain bintang, Victor Lindelof, Nemanja Matic, dan Romelu Lukaku. Sayangnya, performa impresif yang ditularkan pemain-pemain bintang tersebut di awal musim tidak dapat dijaga dengan baik, sehingga MU kini lebih sering meraih hasil minor dan menunjukan performa yang kian melempem.
Performa The Red Devils yang semakin menurun ternyata tidak luput dari pengamatan sang legenda hidup, Ryan Giggs. Bahkan, Giggs tidak sungkan melancarkan kritik pedas hingga membanding-bandingkan kualitas pemain MU dengan pemain rival, Manchester City. Dilansir dari bolasport.com (28/12/2017), Giggs mengungkapkan bahwa ada faktor utama yang menyebabkan Setan Merah kalah bersaing dari sang tetangga.
"Manchester City punya pemain yang mau bekerja keras saat mereka tak mendapatkan bola. Apakah para pemain Manchester United memiliki kualitas tersebut? Sangat berat untuk mengatakan ini, tetapi mereka tidak memilikinya saat ini," ujar Giggs dikutip dari tribunnews.com (28/12/2017).
Jika menoleh pada penampilan kedua tim ketika bersua di 'Derby Manchester' beberapa waktu lalu, apa yang dikatakan Giggs boleh jadi benar mengingat begitu dominannya The Citizen di laga kala itu. Pemain-pemain Manchester City di setiap sektornya mampu menunjukan kulitas kerja keras yang baik saat bertahan maupun menyerang. Tidak heran, mereka kini menjadi tim dengan jumlah selisih gol terbaik di Liga Inggris, yakni 16 kebobolan berbanding 49 gol ke gawang lawan.
Tentu sangat berbeda dengan skuad asuhan Jose Mourinho yang dalam laga Derby Manchester justru hanya bermain dengan gaya sepak bola negatif. Pemain-pemain MU lebih banyak menunggu di garis pertahanan sendiri, tidak ada pressing, dan tidak ada pula kreatifitas di lini tengah. Terlepas dari absennya Paul Pogba ketika itu, lini tengah Manchester City benar-benar tampil mendominasi dan sangat unggul dari segi kualitas kerja keras dan kreatifitas.
Penyakit pemain-pemain MU sebagaimana yang dikatakan Giggs bahkan terus berlanjut dalam dua laga terakhir yang mereka lakoni. Ketika bersua Leicester City di King Power Stadium, Manchester United sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengamankan 3 poin, namun lagi-lagi tidak ada kerja keras yang baik untuk memenangkan pertandingan tersebut. Sebagai contoh, pada suatu momen di menit-menit ahir kala menghadapi Leicester City, Marcus Rashford sebenarnya memiliki kesempatan memberikan assist kepada Romelu Lukaku, namun malah memutuskan untuk mendelay bola demi mengulur-ulur waktu.
Dari sini, telah bisa dilihat bahwa mereka tidak memiliki kerja keras yang baik untuk memenangkan pertandingan dengan gol sebanyak mungkin sebagaimana yang ditunjukan Manchester City. Lini bertahan mereka yang jarang melakukan pressing dan hanya menunggu di garis pertahanan pada akhirnya menjadi penyebab terciptanya gol bagi Leicester di menit-menit akhir.
Maka benar saja kata Ryan Giggs, bahwa kerja keras, baik dalam bertahan maupun menyerang adalah problema paling utama bagi Manchester United yang kini penampilannya kian melempem.
Sumber : ucweb.com



