Ada sebuah kebijakan menarik yang dimiliki Jose Mourinho selama menjalani karirnya sebagai salah satu pelatih tersukses di dunia sepak bola. The Spesial One, julukannya, dikenal tidak memiliki belas kasihan terhadap pemain-pemain yg dianggap gagal menunjukan permainan terbaik di atas lapangan hijau. Bagi Mou, setiap pemain yang gagal harus siap didepak karena pemain lain selalu berebut untuk mengisi skuad utama.
Kebijakan ala Mourinho ini selalu dipegang erat kemanapun dirinya mengarungi petualangan sebagai seorang juru taktik, tidak terkecuali ketika dirinya ditunjuk sebagai suksesor Louis Van Gaal di Manchester United. Selama dua musim menukangi Setan Merah, Mourinho telah menjalankan kebijakannya tersebut dan satu nama yang telah merasakan pembekuan itu adalah Henrihk Mkhitaryan.
Sumber : independent.co.ukPemain berkebangsaan Armenia itu sebenarnya merupakan gelandang idaman Jose Mourinho. Saat masih menjabat sebagai pelatih Chelsea, Mou sudah berpikir untuk mendatangkan Miki yang kala itu masih berseragam Borussia Dortmund. Terlebih lagi ketika geladang berusia 28 tahun itu dinobatkan sebagai pemain terbaik Bundesliga tahun 2016, Mourinho tidak berpikir panjang untuk membawanya ke Old Trafford.
Secara teknik dan gaya permainan, Mkhitaryan memang memunuhi semua syarat kecocokan dengan pakem andalan Jose Mourinho. Dengan skema counter attack, Mourinho sangat membutuhkan tipikal gelandang cepat yang juga memiliki pengambilan keputusan cepat dan tidak bertele-tele. Segala apa yang dibutuhkan Mou berada dalam satu paket lengkap pada diri Mkhitaryan.
Sayangnya, ekspektasi Mou harus berbenturan dengan masalah inkonsistensi Mkhitaryan. Sejak melakoni musim perdananya tahun lalu, Miki lebih banyak menampilkan permofram angin-anginan, kadang bagus namun kadang buruk. Padahal situasi tersebut tidak boleh terjadi bila dirinya ingin bermain reguler di skuad utama Jose Mourinho.
Tercatat, musim lalu Miki harus absen kurang lebih dua bulan akibat performa buruk yang ia tunjukan kala MU menderita kekalahan atas Manchester City. Kemudian, pasca pembekuan tersebut MIki kembali tampil garang hingga berhasil membawa Setan Merah meraih tiga trofi. Dan di awal musim ini, performa apiknya kembali berlanjut dengan berhasil mencatatkan 5 assist dari 3 penampilan di Liga Inggris, sebagaimana dikutip dari whoscored.com (13/12/2017).
Namun penyakit inkonsistensi Miki kembali kambuh di bulan November, hingga dirinya harus rela dibekukan dari skuad utama. Apa yang terjadi pada Miki boleh jadi akan segera dirasakan pula oleh pemain termahal kedua MU, Romelu Lukaku. Nama pemain berusia 24 tahun itu belakangan ramai diperbincangkan akibat performa buruk yang terus ia tunjukan.

Bagaimana tidak, dari 14 penampilan terakhinya di semua ajang, Lukaku hanya mampu menorehkan 2 gol ke gawang lawan, sebagaimana dikutip dari squawka.com (13/12/2017). Padahal, dengan harganya yang fantastis, 75 juta pounds, Lukaku seharusnya menunjukan kualitas sebagai mesin gol yang dapat diandalkan Setan Merah. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, pemain berkebangsaan Belgia itu bahkan menjadi kambing hitam kekalahan MU atas City di Old Trafford akhir pekan lalu.
Seiring dengan performanya yang tidak kunjung membaik, bukan tidak mungkin Mou akan kehilangan kesabarannya terhadap Lukaku. Apalagi, masih ada nama Zlatan Ibrahimovic yang siap mengemban tugas sebagai juru gedor di skuad utama. Walaupun membekukan Lukaku adalah opsi yang beresiko mengingat usianya yang masih muda dan rentan terhadap tekanan mental.
Tetapi harus kembali diingat, Mourinho adalah tipikal pelatih yang konsisten terhadap kebijakannya. JIka kesabaran pria berusia 54 tahun itu telah habis, maka Lukaku harus siap-siap menemani Mkhitaryan di tempat pengasingan.
Sumber : Ucnews.com
Sumber : Ucnews.com
